Battle
in Seattle (Redwood Palms Pictures) merupakan film berdasarkan kisah nyata yang menceritakan tentang aksi demonstrasi di Seattle pada tahun 1998, dimana aksi demonstrasi tersebut bertujuan untuk menolak adanya WTO ( World Trade Organization ) ditunjukkan saat itu di kota Seattle mendapat kesempatan sebagai tuan rumah pertemuan rutin WTO , diawali dengan pemasangan spanduk bertuliskan "Democracy", dari situ jelas sekali sikap para LSM di Seattle yang tidak mau mendukung konferensi WTO, Mereka beranggapan bahwa konferensi WTO hanya membahas tentang masalah profit, dan bukan tentang bagaimana mengatasi permasalahan kemanusiaan. karena WTO
dianggap menyebabkan ketakutan bagi masyarakat dunia, segala sesuatu dikuasai
oleh perusahan-perusahan besar dan negara yang berkuasa. Menurut penulis film Battle in Seattle menceritakan tentang
sebuah gerakan sosial yang awalnya hanya beberapa orang namun dengan mengangkat
isu ancaman dari WTO (World Trade
Organization) terhadap masyarakat, sehingga anggota dari gerakan sosial
tersebut bertambah dan memiliki kekuatan untuk merubah keadaan yang pada saat
itu kacau menjadi aman dan sesuai dengan keinginan masyarakat.
Tahun 1999 tepatnya bulan
November akhir adalah peristiwa yang menyedot mata dunia tentang bagaimana
sekitar 10 ribu manusia gabungan advokasi konsumen, pencinta lingkungan,
pecinta binatang, organisasi buruh, mahasiswa dan tentu saja tak ketinggalan
kaum anarkis membuat polisi kewalahan dan berhasil menunda pembukaan sidang WTO
di bioskop Paramount. Tidak hanya pada saat pembukaan saja, tetapi demo
tersebut juga berkelanjutan hingga 5 hari berturut-turut. Demo yang pada
awalnya berjalan dengan aksi damai berubah menjadi anarkis, ketika sekelompok
perusuh anarki mulai merusak gedung-gedung di sepanjang jalan Seattle yang menyebabkan aparat membalas tindakan para pendemo yang
non-anarki karena dikira semua demo adalah demo anarki.
Dalam film tersebut juga dikisahkan sebuah drama tentang seorang
istri polisi yang sedang hamil 5 bulan, dan tiba-tiba dia menjadi membenci
polisi termasuk suaminya. Ini disebabkan karena pada saat dia pulang kerja,
ditengah jalan dia bertemu rombongan pendemo yang sedang dihalau oleh polisi
dengan cara dipukuli. Dan pasti sudah bisa ditebak, bahwa istri polisi tersebut
terkena pukulan di perutnya yang secara langsung mambuat dirinya mengalami
keguguran. Melihat dia keguguran, kontan saja dia langsung beranggapan bahwa semua
polisi, termasuk suaminya bukan melindungi, melainkan menyerang warga kota.
Ironis memang, dikala istri seorang polisi menjadi korban polisi. Yang lebih
parah, adalah suaminya tersebut melampiaskan kekesalanya pada seorang
demonstran dan memukulinya sampai babak belur. Namun pada akhirnya istri polisi
tersebut memaafkan dan mau mengerti tugas polisi yang serba salah dalam kondisi
tersebut, salah jika diam, dan salah juga jika harus bertindak dengan
kekerasan. selain itu, ada seorang jurnalis yang ditugaskan untuk meliput wawancara Bill Clinton,
malah membuat siaran langsung bagaimana keadaan para pendemo yang sedang
dipukuli oleh para aparat. Padahal senator setempat memerintahkan untuk tidak
bertindak secara brutal. Tentu saja pihak pengelola TV milik wartawan tersebut
marah dan memutuskan siaran langsung tersebut. Nah dilain pihak ternyata
wartawan tersebut malah ditangkap oleh polisi karena dikira salah satu pendemo
juga. Otomatis wartawan tersebut mendekam dipenjarabersama dengan para pendemo yang berhasil ditangkap karena disangka
para provokatornya.
Ending dari film ini adalah demontrasi
yang berlangsung selama 5 hari penuh itu merupakan bentuk pembicaraan menyangkut pemberlakukan perdagangan bebas atas sejumlah komoditi termasuk
sektor kesehatan yang membuat mahalnya obat-obatan. Selain itu, pesan dari film ini adalah meskipun terdapat kekuatan hegemonik dan korporasi multinasional di suatu kota namun tetap ada masyarakat sipil apabila ada kesalahan dalam menggunakan kekuaan hegemoniknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar