Senin, 24 Oktober 2016

REVIEW : BATTLE IN SEATTLE



Battle in Seattle (Redwood Palms Pictures) merupakan film berdasarkan kisah nyata yang menceritakan tentang aksi demonstrasi di Seattle pada  tahun 1998, dimana aksi demonstrasi tersebut bertujuan untuk menolak adanya WTO ( World Trade Organization ) ditunjukkan saat itu di kota Seattle mendapat kesempatan sebagai tuan rumah pertemuan rutin WTO , diawali dengan pemasangan spanduk bertuliskan "Democracy", dari situ jelas sekali sikap para LSM di Seattle yang tidak mau mendukung konferensi WTO, Mereka beranggapan bahwa konferensi WTO hanya membahas tentang masalah profit, dan bukan tentang bagaimana mengatasi permasalahan kemanusiaan.  karena WTO dianggap menyebabkan ketakutan bagi masyarakat dunia, segala sesuatu dikuasai oleh perusahan-perusahan besar dan negara yang berkuasa. Menurut penulis film Battle in Seattle menceritakan tentang sebuah gerakan sosial yang awalnya hanya beberapa orang namun dengan mengangkat isu ancaman dari WTO (World Trade Organization) terhadap masyarakat, sehingga anggota dari gerakan sosial tersebut bertambah dan memiliki kekuatan untuk merubah keadaan yang pada saat itu kacau menjadi aman dan sesuai dengan keinginan masyarakat.

Tahun 1999 tepatnya bulan November akhir adalah peristiwa yang menyedot mata dunia tentang bagaimana sekitar 10 ribu manusia gabungan advokasi konsumen, pencinta lingkungan, pecinta binatang, organisasi buruh, mahasiswa dan tentu saja tak ketinggalan kaum anarkis membuat polisi kewalahan dan berhasil menunda pembukaan sidang WTO di bioskop Paramount. Tidak hanya pada saat pembukaan saja, tetapi demo tersebut juga berkelanjutan hingga 5 hari berturut-turut. Demo yang pada awalnya berjalan dengan aksi damai berubah menjadi anarkis, ketika sekelompok perusuh anarki mulai merusak gedung-gedung di sepanjang jalan Seattle yang menyebabkan aparat membalas tindakan para pendemo yang non-anarki karena dikira semua demo adalah demo anarki.

 Dalam film tersebut juga dikisahkan sebuah drama tentang seorang istri polisi yang sedang hamil 5 bulan, dan tiba-tiba dia menjadi membenci polisi termasuk suaminya. Ini disebabkan karena pada saat dia pulang kerja, ditengah jalan dia bertemu rombongan pendemo yang sedang dihalau oleh polisi dengan cara dipukuli. Dan pasti sudah bisa ditebak, bahwa istri polisi tersebut terkena pukulan di perutnya yang secara langsung mambuat dirinya mengalami keguguran. Melihat dia keguguran, kontan saja dia langsung beranggapan bahwa semua polisi, termasuk suaminya bukan melindungi, melainkan menyerang warga kota. Ironis memang, dikala istri seorang polisi menjadi korban polisi. Yang lebih parah, adalah suaminya tersebut melampiaskan kekesalanya pada seorang demonstran dan memukulinya sampai babak belur. Namun pada akhirnya istri polisi tersebut memaafkan dan mau mengerti tugas polisi yang serba salah dalam kondisi tersebut, salah jika diam, dan salah juga jika harus bertindak dengan kekerasan. selain itu, ada seorang jurnalis yang ditugaskan untuk meliput wawancara Bill Clinton, malah membuat siaran langsung bagaimana keadaan para pendemo yang sedang dipukuli oleh para aparat. Padahal senator setempat memerintahkan untuk tidak bertindak secara brutal. Tentu saja pihak pengelola TV milik wartawan tersebut marah dan memutuskan siaran langsung tersebut. Nah dilain pihak ternyata wartawan tersebut malah ditangkap oleh polisi karena dikira salah satu pendemo juga. Otomatis wartawan tersebut mendekam dipenjarabersama dengan para pendemo yang berhasil ditangkap karena disangka para provokatornya. 

Ending dari film ini adalah demontrasi yang berlangsung selama 5 hari penuh itu merupakan bentuk pembicaraan menyangkut pemberlakukan perdagangan bebas atas sejumlah komoditi termasuk sektor kesehatan yang membuat mahalnya obat-obatan. Selain itu, pesan dari film ini adalah meskipun terdapat kekuatan hegemonik dan korporasi multinasional di suatu kota namun tetap ada masyarakat sipil apabila ada kesalahan dalam menggunakan kekuaan hegemoniknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar